Awal Mula Nama TI91S

Awal Mula Nama TI91S

Awal Mula Nama TI91S

Tahun 1991, kampus Universitas Islam Bandung dipenuhi mahasiswa baru Teknik Industri dengan berbagai karakter unik. Ada yang rajin belajar, ada yang hobi nongkrong, ada yang senang merapat ke fakultas lain, dan ada juga yang rajin luar biasa—tapi khusus untuk urusan main bola.

Dari sekian banyak mahasiswa angkatan 1991 tersebut, berkumpullah para penggila lapangan hijau. Sebagian memang pemain serius, sementara sebagian lagi sebenarnya lebih berbakat menjadi komentator di pinggir lapangan. Namun, mereka semua memiliki satu kesamaan: kalau sudah mendengar kata "main bola", mata mereka akan langsung berbinar. Di situlah berkumpul nama-nama legendaris seperti Jaji, Agie, Rudy, Dhani Otoy, Hery, Endang, Dadang, Iyan, Idong, Fadel, Ruby, Dhani Sadur, dan sederet "pemain cadangan kehidupan" lainnya yang kadang datang dengan formasi lengkap, namun kadang hilang entah ke mana saat jadwal latihan tiba.

Semuanya bermula dari sebuah ajakan sederhana yang terdengar seperti panggilan takdir bagi anak kampus masa itu:

"Eh... ada kompetisi bola di lapangan Lanud Sulaeman, ikut nggak?"

Padahal kenyataannya, persiapan mereka sangat jauh dari kata matang. Sebagian besar belum punya seragam, apalagi jadwal latihan rutin. Strategi permainan mereka pun hanya sebatas prinsip pertahanan dasar: "Pokoknya bola jangan sampai lewat." Namun, semangat yang mereka miliki terbukti jauh lebih besar daripada kemampuan tekniknya.

Masalah sesungguhnya baru muncul saat pendaftaran. Ketika panitia bertanya, "Nama timnya apa?", semua langsung terdiam. Suasana mendadak kaku, persis seperti suasana sidang skripsi tanpa persiapan. Hingga akhirnya sebuah usulan memecah kebuntuan, "Pakai TI91 aja gimana? Teknik Industri 91." Semua mengangguk setuju karena terdengar masuk akal, simpel, dan memiliki identitas yang jelas.

Sayangnya, kelegaan itu tidak bertahan lama. Masalah baru tentang cara pelafalan pun muncul.

"Kalau dibaca gimana? Ti... sembilan satu? Kurang keren ah… goreng patut, panjang teuing…." keluh salah satu dari mereka.

Seseorang lalu menyeletuk, "Lagi trend tuh gaya bacaan disamarkan… coba dibaca ‘Tigi’." Semua mulai manggut-manggut. Lumayan, pikir mereka, tapi rasanya masih sedikit nanggung.

Nah, di detik inilah Agie mengambil peran yang sangat penting dalam sejarah peradaban mereka. Sebagai seorang penggemar komik Trigun, Agie tiba-tiba mendapat ilham tingkat dewa.

"Kalau ditambah huruf S gimana? Kaya Trigis..." usulnya.

Semua terdiam selama beberapa detik, meresapi nama tersebut, sebelum akhirnya bersorak sepakat.

"TIGIS! Wah enak didengernya! Hade pisan euy! Kayak nama klub luar negeri!"

Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, mereka tetaplah sekumpulan anak Teknik Industri Unisba, bukan klub raksasa dari Italia. Maka lahirlah nama TI91S, yang dibaca dengan penuh kebanggaan: TIGIS.

Namun, cerita belum selesai sampai di situ. Di tengah euforia penamaan tersebut, Rudy tiba-tiba bertanya dengan wajah serius, "Tapi… huruf S itu kepanjangannya apa? Keren-keren tapi nggak ada arti…"

Suasana kembali hening. Ada yang menggaruk kepala, ada yang sok berpikir keras, ada yang pura-pura minum, dan seandainya zaman itu sudah ada smartphone, mungkin ada juga yang pura-pura sibuk membalas pesan. Sampai akhirnya, muncullah sebuah jawaban yang paling hangat dan paling pas untuk merangkum identitas mereka:

"S itu… Sadudulur aja."

Hening sejenak menyelimuti, lalu semua tersenyum setuju. Karena memang itulah mereka sesungguhnya. Bukan sekadar tim bola. Bukan sekadar teman sekelas. Tapi sadudulur. Mereka adalah saudara seperjuangan yang dipersatukan oleh kepenatan kuliah, tumpukan tugas, obrolan kantin, tongkrongan, dan tentu saja… sepak bola. Sejak hari itu, nama lengkap tidak resmi mereka adalah TI91 Sadudulur, alias TI91S, alias TIGIS.

Ajaibnya, nama itu terus hidup dan bernapas. Awalnya hanya dipakai sebagai syarat mendaftar kompetisi bola, namun perlahan meresap menjadi nama tongkrongan, menjelma menjadi identitas angkatan, menghiasi spanduk-spanduk reuni, dan terus digaungkan di setiap kesempatan. Nama TIGIS seolah memiliki nyawanya sendiri.

Bahkan bertahun-tahun kemudian—setelah mereka lulus, menikah, memiliki anak, saat rambut mulai menipis, perut mulai demokratis maju ke depan, dan lutut berbunyi "krek" setiap kali turun tangga—nama itu tetap menggelora. Setiap kali berkumpul, rasanya mereka kembali menjadi mahasiswa baru tahun 1991. Masih saling ejek, masih tertawa ngakak bersama, masih menceritakan gol yang sebenarnya offside, dan masih merasa paling hebat meskipun napas sudah habis sebelum babak pertama selesai.

Mungkin, itulah alasan utama mengapa TI91S tidak pernah benar-benar hilang ditelan waktu. Karena ada beberapa nama yang diciptakan bukan sekadar sebagai pembeda. Ada nama-nama yang dibangun dari tawa, kebersamaan, dan persahabatan abadi. Dan TI91 ➡️ TI91S = TIGIS adalah salah satunya.

Siap Bergabung?

Jadi bagian dari jejaring alumni TIGIS dan ikut menghidupkan kegiatannya.