Di bawah naungan lambang roda gigi UNISBA

T

Tim Redaksi

TigisSocial · 25 Juni 2026

Di bawah naungan lambang roda gigi UNISBA
Di baris depan, yang jongkok, ada si 'Kepala Suku' dengan kemeja putihnya yang sok rapi, padahal malamnya dia begadang ngerjain tugas teknik sipil. Di sebelahny…

Di bawah naungan lambang roda gigi Universitas Islam Bandung (UNISBA), ada satu tempat yang bukan cuma sekadar susunan batu. Tangga Batu�itulah kami menyebutnya, sebuah markas besar, ruang sidang, dan panggung pertunjukan yang telah menjadi saksi bisu ribuan cerita sejak tahun 1991.

Tahun 1991, Bandung masih sejuk dan belum semacet sekarang. Udara sore di kampus UNISBA itu terasa magis, apalagi saat kami semua berkumpul di tangga batu. Lihatlah foto tua yang mulai menguning ini (1.jpg). Lihat keramaiannya! Kami, sekelompok mahasiswa teknik yang penuh ambisi, berdesakan penuh tawa di bawah lambang kebanggaan fakultas itu.

Di baris depan, yang jongkok, ada si 'Kepala Suku' dengan kemeja putihnya yang sok rapi, padahal malamnya dia begadang ngerjain tugas teknik sipil. Di sebelahnya, si 'Pelawak' yang pakai jaket bergaris, yang setiap kali ujian kalkulus selalu punya seribu cara buat bikin pengawasnya pusing. Tangga batu itu jadi 'pusat gravitasi' kami.

Pernah suatu sore, menjelang ujian semester yang 'mematikan', kami semua berkumpul di sana. "Gimana sih rumus turunan fungsi ini? Kepala gue mau pecah!" teriak salah satu dari kami dengan putus asa. Lalu si 'Pelawak' langsung berdiri, berakting dramatis, dan bilang, "Tenang, Bro! Rumusnya itu kayak mantan: kalau lu turuni, ilang! Tapi kalau lu integrasi, bakal dapet banyak!" Gelak tawa pun pecah, mengalahkan ketegangan ujian.

Belum lagi kisah tentang 'Penyelundupan Super'. Pernah ada peraturan nggak boleh makan di area tangga. Tapi siapa yang bisa tahan sama aroma mi instan dari warung sebelah? Akhirnya, kami buat rencana. Lima orang di depan bertugas 'memblokir' pandangan satpam yang patroli, sementara lima orang di belakang, termasuk beberapa cewek teknik yang super cerdik (lihat mereka di foto, di antara kerumunan jilbab putih), 'mengantarkan' panci mi instan ke atas tangga. Momen makan bareng-bareng di atas batu dingin, berbagi satu panci dengan sepuluh orang, itu rasa mi instan terlezat di dunia. Tawa kami saat berhasil 'mengelabui' satpam sampai-sampai terdengar ke gedung rektorat.

Tapi ada juga hari-hari yang sunyi. Hari-hari ketika salah satu dari kami pulang dengan wajah murung karena gagal ujian, atau karena masalah keluarga. Di saat seperti itu, tangga batu jadi tempat paling damai. Kami nggak banyak bicara, cuma duduk bersama, menepuk pundak, memberikan pundak untuk bersandar. "Nggak apa-apa, Bro. Ada kita di sini," kata-kata sederhana yang terasa seperti pelukan hangat. Di sinilah kami belajar tentang arti solidaritas sejati, bukan cuma sekadar teman sekelas. Di sinilah kami menangis haru karena keberhasilan teman yang akhirnya lulus, dan berjanji untuk tidak pernah melupakan satu sama lain.

Momen di foto (1.jpg) ini diambil saat sore yang sempurna, setelah kami berhasil menyelesaikan kompetisi teknik besar. Kami semua berdesakan, mengatur pose, "Sempitin lagi! Yang belakang kelihatan nggak? Yang depan jangan kayak nahan pipis!" Kamera kuno berbunyi klik, dan diabadikanlah semangat kami di bawah roda gigi UNISBA. Lihat, ekspresi kami penuh tawa dan harapan.

Bertahun-tahun berlalu, anak-anak di foto itu sudah jadi 'orang', tersebar di berbagai penjuru. Tangga batu itu mungkin sudah berubah wujudnya, tapi kenangan kami di sana tidak akan pernah pudar. Setiap kali melihat foto ini, aku merasa kembali ke tahun 1991. Aku mendengar tawa si Pelawak, merasakan kehangatan pundak Kepala Suku, dan rindu Bandung di sore hari. Tangga Batu UNISBA�bukan cuma sekadar batu, tapi fondasi kuat persahabatan abadi kami.

Penilaian Pembaca

Seberapa bermanfaat tulisan ini bagi Anda?

star star star star star
0,0 / 5,0 (0 penilai)

Tanggapan Pembaca (0)

lock

Masuk dulu untuk ikut menanggapi tulisan ini.

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama.

Siap Bergabung?

Jadi bagian dari jejaring alumni TIGIS dan ikut menghidupkan kegiatannya.