Menyalakan Nurani Birokrasi: Kepedulian sebagai Jiwa Utama Pelayanan Publik
Amarullah M. Zawawi
Tigis Artikel · 10 Agustus 2026
Menyalakan Nurani Birokrasi: Kepedulian sebagai Jiwa Utama Pelayanan
Publik
Oleh:
Amar MZ -Penyuluh Antikorupsi
Melanjutkan pembahasan terhadap
sembilan nilai integritas antikorupsi dalam akronim Jumat Bersepeda KK, sekarang
sampai pada nilai keenam yang menjadi pengikat rasa kemanusiaan kita: Peduli.
Jika kejujuran adalah kompas dan keberanian adalah keberanian bertindak benar,
maka kepedulian adalah bahan bakar utama yang membuat seluruh instrumen
integritas itu memiliki arti bagi sesama.
Dalam dunia kerja dan tata kelola
pemerintahan, kepedulian sering kali dianggap sebagai urusan sampingan yang sering
terabaikan dibanding capaian target formal. Padahal, peduli bukan sekadar
perasaan iba atau sekadar mengucapkan kata-kata simpati saat melihat orang lain
tertimpa kesusahan. Kepedulian sejati dalam integritas adalah kemampuan empati
yang mendalam, sebuah kepekaan nurani yang membuat seseorang tidak tahan diam
saat melihat ketidakadilan, penyimpangan, atau penderitaan orang lain, lalu
bergerak melakukan tindakan nyata untuk memperbaikinya.
Cermin
Kepedulian dari Tokoh Bangsa
Sejarah republik ini ditegakkan oleh
sosok-sosok yang dada dan pikirannya penuh dengan kepedulian terhadap nasib
rakyatnya. Kita bisa memetik pelajaran berharga dari kisah Dr. Cipto
Mangunkusumo, seorang dokter sekaligus pejuang kemerdekaan yang namanya
kini diabadikan sebagai nama rumah sakit rujukan nasional. Dr. Cipto adalah
contoh sempurna dari nilai peduli yang melampaui batas kewajiban tugas.
Ketika wabah pes melanda wilayah
Malang pada awal abad ke-20, banyak orang melarikan diri karena takut tertular
penyakit mematikan tersebut. Namun, Dr. Cipto justru masuk ke pusat wabah tanpa
memikirkan keselamatan jiwanya sendiri. Beliau merawat pasien-pasien miskin
yang ditinggalkan, bahkan mengadopsi seorang bayi yatim piatu yang orang tuanya
meninggal karena pes. Bagi Dr. Cipto, ilmu kedokteran dan jabatan bukan alat
untuk menumpuk kekayaan, melainkan sarana untuk mengabdi kepada kemanusiaan.
Kepeduliannya adalah tindakan nyata yang memprioritaskan keselamatan orang
banyak di atas kenyamanan pribadi.
Tokoh lain yang tak kalah
menginspirasi adalah Ki Hajar Dewantara. Kepeduliannya yang mendalam
terhadap nasib rakyat jelata yang tidak bisa mengenyam pendidikan di masa
penjajahan membuatnya merelakan fasilitas dan keistimewaan sebagai keturunan
bangsawan. Beliau mendirikan Perguruan Taman Siswa agar anak-anak rakyat biasa
bisa belajar dan memiliki masa depan yang lebih baik. Ki Hajar Dewantara
mengajarkan kita bahwa kepedulian adalah keberanian untuk berbagi ruang dan
kesempatan agar orang lain bisa tumbuh bersama kita.
Korupsi
sebagai Bentuk Paling Nyata Hilangnya Empati
Jika dibedah secara mendalam, akar
dari segala bentuk kejahatan korupsi sejatinya adalah matinya rasa peduli.
Seorang pejabat yang nekat menggelembungkan anggaran pembangunan sekolah,
memotong dana bantuan sosial, atau membiarkan infrastruktur publik dibangun
asal-asalan adalah manusia yang telah kehilangan empati di dalam hatinya.
Mereka tidak peduli bahwa uang yang
mereka rampok adalah harapan bagi anak-anak untuk mendapatkan ruang kelas yang
layak. Mereka tidak peduli bahwa jalan raya yang rusak akibat pemotongan
spesifikasi proyek bisa mencelakakan warga yang melintasinya. Ketika rasa
peduli menguap, manusia hanya melihat dunia dari kacamata keuntungan pribadi,
menjadikan orang lain sekadar angka atau objek yang bisa dieksploitasi. Oleh
karena itu, menanamkan nilai peduli adalah penawar paling ampuh untuk mematikan
benih-benih keserakahan.
Membumikan Kepedulian di Meja Pelayanan
Kepedulian di tempat kerja tidak
harus selalu diwujudkan melalui aksi-aksi besar yang dramatis. Kepedulian bisa
dimulai dari kebiasaan sehari-hari yang sangat sederhana di lingkungan
birokrasi dan pelayanan publik.
Seorang aparatur yang peduli tidak
akan membiarkan seorang warga lansia berdiri kebingungan di ruang tunggu
pelayanan tanpa memberikan bantuan. Ia tidak akan tega membiarkan berkas
permohonan masyarakat menumpuk berhari-hari di atas mejanya hanya karena malas,
sebab ia tahu betul bahwa di balik setiap lembar kertas itu ada nasib dan
harapan hidup seseorang yang sedang menanti kepastian.
Dalam skala hubungan antarrekan
kerja, nilai peduli hadir dalam bentuk keberanian untuk saling mengingatkan (peer warning). Ketika melihat rekan sejawat mulai
menunjukkan indikasi penyimpangan -seperti menerima imbalan tidak sah, sering
membolos, atau memalsukan Laporan Pertanggungjawaban- seorang teman yang peduli
tidak akan memilih diam. Ia akan menegur dan mengingatkan rekannya dengan cara
yang baik sebelum kekhilafan kecil itu berubah menjadi kasus hukum yang merusak
masa depan dan keluarganya.
Pada akhirnya, kepedulian adalah
perekat sosial yang menjadikan birokrasi tersebut memiliki jiwa. Aparatur yang
berintegritas bukanlah mesin tanpa perasaan yang hanya bekerja berdasarkan
petunjuk teknis semata. Mereka adalah manusia-manusia yang memiliki kepekaan
rasa, yang bekerja dengan hati nurani, dan senantiasa menanyakan pada diri sendiri
di setiap awal hari: "Manfaat apa yang bisa saya berikan untuk
orang lain hari ini?"
Pangkalpinang
10 Agustus 2026
Penilaian Pembaca
Seberapa bermanfaat tulisan ini bagi Anda?
Tanggapan Pembaca (1)
Masuk dulu untuk ikut menanggapi tulisan ini.
Sjahdinu Miraza 10 Agustus 2026
semangat Amar ... mantap nulis terus