Bernyali Melawan Arus: Menerjemahkan Nilai "Berani" dari Sosok Pendekar Hukum Nasional
Tim Redaksi
Tigis Artikel · 3 Agustus 2026
Bernyali Melawan Arus: Menerjemahkan Nilai
"Berani" dari Sosok Pendekar Hukum Nasional
Oleh: Amar MZ -Penyuluh Antikorupsi
Bukan Sekadar Urusan Otot
Melanjutkan seri bincang santai kita tentang
sembilan nilai integritas antikorupsi (Jumat Bersepeda KK), kini kita sampai
pada satu nilai yang sering kali membuat detak jantung berdebar lebih kencang:
Berani. Kalau mendengar kata berani, mungkin yang terlintas di pikiran kita
adalah sosok pahlawan super di film laga atau prajurit di medan perang. Namun,
dalam dunia birokrasi dan pelayanan publik, keberanian wujudnya jauh lebih
sunyi, minim sorotan kamera, tetapi efeknya sangat luar biasa.
Berani di lingkungan kerja bukanlah tentang
menantang atasan adu fisik atau bersikap arogan. Keberanian sejati bagi seorang
aparatur negara adalah kemampuan untuk mengatakan "Tidak" pada
sesuatu yang salah, meskipun semua orang di sekelilingnya mengatakan
"Iya". Ini adalah nyali untuk menolak amplop pelicin, menolak
membubuhkan tanda tangan pada dokumen fiktif, dan menolak tunduk pada budaya ewuh pakewuh atau rasa sungkan yang berpotensi
merugikan keuangan negara. Keberanian adalah melangkah keluar dari zona nyaman
untuk membela kebenaran.
Belajar
Ketegasan dari Sang Pendekar, Baharuddin Lopa
Untuk benar-benar memahami apa itu nyali dalam
birokrasi, kita tidak perlu mencari tokoh fiktif. Indonesia memiliki salah satu
figur paling legendaris yang namanya selalu harum ketika kita bicara soal
keberanian dan antikorupsi: mendiang Baharuddin Lopa. Mantan Jaksa Agung dan
Menteri Kehakiman ini adalah definisi hidup dari nilai "Berani".
Baharuddin Lopa dikenal sebagai aparat penegak
hukum yang tidak punya rasa takut kecuali kepada Tuhan. Beliau berani mengusut
kasus-kasus korupsi kelas kakap yang melibatkan penguasa dan konglomerat besar
pada masanya, sesuatu yang sangat dihindari oleh pejabat lain karena risikonya
yang mengancam jabatan hingga nyawa.
Keberanian Lopa lahir dari kemurnian niat dan
kesederhanaannya. Ada satu kisah epik yang sangat terkenal. Suatu ketika, mobil
dinas beliau diisikan bensin oleh seorang pejabat daerah yang sedang
dikunjunginya. Begitu mengetahui hal tersebut, Lopa marah besar. Ia menyuruh
sopirnya menyedot kembali bensin tersebut dan mengembalikannya saat itu juga.
Bagi sebagian orang, menolak pemberian kecil seperti bensin mungkin dianggap
kaku atau berlebihan. Namun bagi Lopa, keberanian menolak korupsi besar harus
dimulai dari keberanian memotong kompromi pada hal-hal sekecil apa pun. Beliau
paham betul, sekali kita membiarkan diri kita berutang budi, di saat itulah
nyali kita untuk menegakkan kebenaran akan tergadaikan.
Keberanian di Meja Kerja Masa Kini
Di era sekarang, bagaimana kita mengaplikasikan
keberanian ala Baharuddin Lopa di meja kerja kita? Tantangannya mungkin bukan
lagi menghadapi ancaman fisik, melainkan ancaman pengucilan sosial. Sering
kali, aparatur yang berani jujur justru dijauhi oleh rekan kerjanya, dianggap
sok suci, atau bahkan dihambat jenjang karirnya.
Keberanian masa kini adalah nyali untuk menyuarakan
inovasi yang mendobrak sistem kuno yang korup. Ketika Anda melihat ada prosedur
pelayanan publik yang sengaja dibuat berbelit-belit agar masyarakat harus
membayar calo, beranikan diri Anda untuk memangkasnya. Ketika ada rapat
perencanaan anggaran dan Anda melihat ada pos belanja yang jelas-jelas hanya
pemborosan, beranikan diri Anda untuk mengangkat tangan dan mengkritisinya
dengan data yang valid.
Menjadi berani memang tidak selalu membuat kita populer. Namun, wibawa
seorang abdi negara tidak dibangun dari seberapa banyak orang yang menyukainya,
melainkan dari seberapa teguh ia memegang prinsip. Ingatlah, keberanian itu
menular. Ketika satu orang saja berani berdiri dan menyuarakan kebenaran, ia
akan memantik keberanian rekan-rekan lainnya yang selama ini mungkin hanya diam
karena takut. Mari menjadi pemantik nyali itu di lingkungan kerja kita, karena
birokrasi ini merindukan sosok-sosok yang berani melawan arus demi kebaikan.
Pangkalpinang
3 Agustus 2026
Penilaian Pembaca
Seberapa bermanfaat tulisan ini bagi Anda?
Tanggapan Pembaca (0)
Masuk dulu untuk ikut menanggapi tulisan ini.
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama.