Masa depan rare Earth di Indonesia
Tim Redaksi
Tigis Artikel · 4 Agustus 2026
MENGAPA PRESIDEN MENUGASKAN KSP MENGURUS RARE EARTH?
Kasus Logam Tanah Jarang yang Mengubah Cara Saya Membaca Industrialisasi
▪️cakHP▪️
4 Agustus 2026
Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya setelah membaca wawancara Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Dudung Abdurachman.
Bukan mengenai Logam Tanah Jarang.
Bukan pula mengenai hilirisasi.
Melainkan pertanyaan yang jauh lebih sederhana.
Mengapa Presiden menugaskan KSP mengurus Rare Earth?
Saya membolak-balik pertanyaan itu berkali-kali.
Semakin dipikirkan, semakin terasa aneh.
Bukankah urusan pertambangan merupakan kewenangan Kementerian ESDM?
Bukankah ekspor berada di tangan Kementerian Perdagangan?
Bukankah teknologi menjadi wilayah BRIN?
Bukankah investasi ditangani BUMN dan kementerian terkait?
Lalu mengapa justru KSP?
Semula saya mengira jawabannya pasti karena Rare Earth merupakan mineral yang sangat strategis.
Saya keliru.
Semakin banyak dokumen yang saya baca, justru semakin jelas bahwa Presiden sesungguhnya tidak sedang mengirim KSP untuk mengurus Rare Earth.
Yang sedang diurus adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.
📌 Semuanya Berjalan. Tetapi Tidak Ada yang Bergerak.
Cerita ini tidak dimulai dari sebuah tambang.
Ia juga tidak dimulai dari sebuah pabrik.
Cerita ini dimulai dari laporan sejumlah pelaku usaha.
Mereka mengeluhkan bahwa ekspor mineral yang mengandung Logam Tanah Jarang sebagai unsur ikutan mengalami hambatan.
Saya mencoba memahami persoalannya.
Apakah tambangnya berhenti?
Tidak.
Apakah pembelinya menghilang?
Tidak.
Apakah kapalnya tidak tersedia?
Juga tidak.
Lalu apa yang sebenarnya macet?
Jawabannya justru mengejutkan.
Yang berhenti ternyata bukan barangnya.
Yang berhenti adalah keputusan-keputusan yang seharusnya membuat barang itu terus bergerak.
📌 Semakin Saya Membaca, Semakin Aneh
Saya kemudian membaca siapa saja yang hadir dalam rapat koordinasi yang dipimpin KSP.
Daftarnya panjang.
Kementerian ESDM.
Kementerian Perdagangan.
Kementerian Perindustrian.
Kementerian Keuangan.
BRIN.
MIND ID.
PT Timah.
Bea Cukai.
Sucofindo.
Aparat penegak hukum.
Pemerintah daerah.
Asosiasi pelaku usaha.
Dan berbagai institusi lain.
Saya berhenti membaca.
Ada sesuatu yang terasa ganjil.
Mengapa begitu banyak lembaga harus duduk dalam satu meja hanya untuk membahas Logam Tanah Jarang?
Bukankah ini hanya persoalan tambang?
Semakin saya mencoba menjawab pertanyaan itu, justru semakin banyak pertanyaan baru yang muncul.
Kalau ESDM sudah bekerja ...
mengapa masih perlu Bea Cukai?
Kalau Bea Cukai sudah bekerja ...
mengapa masih perlu Sucofindo?
Kalau semua prosedur telah dijalankan ...
mengapa ekspor tetap tersendat?
📌 Dudung Tidak Banyak Berbicara Mengenai Tambang
Di sinilah saya mulai merasa sedang melihat sesuatu yang berbeda.
Dalam wawancaranya, Dudung hampir tidak berbicara mengenai cadangan LTJ.
Ia justru berbicara mengenai koordinasi.
Mengenai komunikasi.
Mengenai penyelarasan regulasi.
Mengenai perlunya menghilangkan keragu-raguan di lapangan.
Ia bahkan menjelaskan bahwa sebelum berbicara mengenai teknologi, yang lebih dahulu harus diselesaikan adalah kepastian pelaksanaan regulasi agar seluruh lembaga memiliki pemahaman yang sama.³
Kalimat itu membuat saya berhenti cukup lama.
Karena saya mulai menyadari bahwa saya mungkin telah salah membaca persoalannya sejak awal.
Saya datang mencari cerita tentang tambang.
Tetapi yang saya temukan justru cerita tentang cara negara mengambil keputusan.
📌 Saya Menemukan Dua Mesin
Di sinilah semuanya mulai terasa masuk akal.
Selama ini saya selalu membayangkan industrialisasi sebagai mesin besar yang mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi.
Gambaran itu ternyata belum lengkap.
Kasus LTJ memperlihatkan adanya mesin lain yang selama ini hampir tidak pernah terlihat.
Mesin pertama menghasilkan barang.
Mesin kedua menghasilkan keputusan.
Mesin pertama berada di tambang, pabrik, laboratorium, dan kawasan industri.
Mesin kedua berada di ruang rapat, meja regulator, kantor Bea Cukai, lembaga riset, kementerian, dan seluruh institusi yang menentukan apakah proses industri dapat terus bergerak atau justru berhenti.
Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri.
Bagaimana jika mesin kedua itulah yang sebenarnya sedang diperbaiki?
Kalau dugaan ini benar...
maka saya akhirnya memahami mengapa Presiden tidak mengirim ahli tambang.
Presiden mengirim lembaga yang bertugas membuka kemacetan antarlembaga.
Rare Earth hanyalah tempat kita pertama kali melihat mesin itu bekerja.
📌 Yang Sebenarnya Sedang Diperbaiki
Semakin lama saya mengikuti jejak kasus ini, semakin saya merasa bahwa saya sedang melihat dua cerita yang berbeda.
Cerita pertama adalah cerita yang tampak di permukaan.
Tentang ekspor mineral.
Tentang Logam Tanah Jarang.
Tentang kandungan unsur ikutan.
Tentang kapal yang tertahan.
Cerita kedua jauh lebih sunyi.
Ia hampir tidak pernah menjadi judul berita.
Ia tidak menghasilkan foto dramatis.
Tidak ada alat berat.
Tidak ada ledakan smelter.
Tidak ada pita peresmian.
Yang ada hanyalah rapat.
Diskusi.
Penyelarasan.
Koordinasi.
Kesepahaman.
Justru cerita kedua inilah yang ternyata menentukan apakah cerita pertama dapat terus berjalan atau berhenti di tengah jalan.
Saya mulai memahami mengapa Dudung hampir tidak berbicara mengenai tambang.
Karena yang sedang ia kerjakan memang bukan mengurus tambang.
📌Ketika Semua Orang Benar, Sistem Tetap Bisa Salah
Ada satu pelajaran menarik yang saya peroleh dari kasus ini.
Kita sering menganggap sebuah sistem akan bekerja dengan baik apabila setiap institusi menjalankan tugasnya dengan benar.
Ternyata tidak selalu demikian.
Dalam kasus LTJ, hampir semua institusi memang menjalankan fungsi masing-masing.
ESDM menjalankan kewenangannya.
Perdagangan menjalankan kewenangannya.
Bea Cukai menjalankan kewenangannya.
Aparat penegak hukum juga menjalankan kewenangannya.
Persoalannya bukan ada institusi yang tidak bekerja.
Persoalannya justru karena setiap institusi melihat persoalan dari sudut pandangnya sendiri.
Akibatnya, tidak ada yang benar-benar melihat keseluruhan proses.
Saya kemudian teringat sebuah analogi yang sangat sederhana.
Bayangkan sebuah orkestra.
Pemain biola memainkan bagiannya dengan sempurna.
Pemain piano juga.
Pemain drum juga.
Tetapi apabila mereka bermain tanpa konduktor, hasil akhirnya belum tentu menjadi musik.
Kadang justru menjadi kebisingan.
Saya mulai melihat KSP bukan sebagai pemain baru.
Melainkan sebagai konduktor.
Ia tidak memainkan biola.
Ia tidak memainkan piano.
Ia bahkan tidak menghasilkan satu nada pun.
Tetapi ia memastikan seluruh pemain memainkan nada yang sama pada waktu yang sama.
📌 Saya Baru Menyadari Kesalahan Cara Berpikir Saya
Terus terang, selama ini saya selalu menganggap industrialisasi terutama merupakan persoalan membangun kapasitas produksi.
Bangun smelter.
Bangun pabrik.
Bangun kawasan industri.
Bangun pelabuhan.
Bangun pembangkit listrik.
Semuanya memang penting.
Tetapi kasus LTJ memaksa saya mengakui bahwa saya telah melewatkan satu lapisan yang jauh lebih mendasar.
Pabrik tidak pernah bekerja sendirian.
Ia bergantung pada ribuan keputusan yang diambil setiap hari.
Keputusan regulator.
Keputusan Bea Cukai.
Keputusan lembaga riset.
Keputusan investor.
Keputusan surveyor.
Keputusan aparat.
Keputusan pemerintah daerah.
Semua keputusan itu membentuk sebuah aliran yang tidak pernah kita lihat.
Tetapi justru aliran itulah yang menentukan apakah mesin-mesin di pabrik akhirnya berputar atau berhenti.
📌Saya Menyebutnya “Mesin Keputusan”
Saya sengaja tidak menggunakan istilah birokrasi.
Karena birokrasi sering dipahami hanya sebagai organisasi pemerintah.
Yang saya lihat dalam kasus LTJ jauh lebih luas.
Ia adalah sebuah mesin.
Bukan mesin baja.
Bukan mesin diesel.
Melainkan mesin yang menghasilkan keputusan.
Setiap hari mesin itu memproses informasi.
Menafsirkan regulasi.
Menyelaraskan kepentingan.
Menyelesaikan perbedaan.
Membangun kesepahaman.
Kadang bekerja sangat cepat.
Kadang justru menjadi bottleneck.
Dan ketika bottleneck itu muncul, seluruh rantai nilai industri ikut melambat.
Bukan karena kekurangan bahan baku.
Bukan karena kekurangan modal.
Melainkan karena flow keputusan ikut berhenti.
Say mulai mengerti mengapa Dudung menyebut pekerjaannya hanya satu.
”Menyelesaikan battle.”
Kalimat itu sekarang terdengar jauh lebih dalam.
Battle yang dimaksud ternyata bukan pertempuran di lapangan.
Melainkan pertempuran melawan bottleneck yang membuat mesin keputusan tidak lagi menghasilkan keputusan secepat yang dibutuhkan industri.
📌 Rare Earth Hanyalah Kasus Pertama
Di sinilah saya merasa memperoleh hadiah terbesar dari seluruh proses membaca kasus ini.
Saya tidak lagi melihat Rare Earth sebagai topik.
Saya melihatnya sebagai jendela.
Melalui jendela itu saya mulai melihat pola yang mungkin juga terjadi pada banyak sektor lain.
Hari ini Rare Earth.
Besok mungkin hidrogen.
Lusa semikonduktor.
Minggu depan industri pertahanan.
Komoditasnya berbeda.
Teknologinya berbeda.
Pelaku usahanya berbeda.
Tetapi pola persoalannya mungkin sama.
Bottleneck bukan selalu berada di pabrik.
Sering kali ia berada di ruang-ruang yang tidak pernah difoto kamera.
Di meja rapat.
Di meja regulator.
Di meja koordinasi.
Dan justru karena letaknya tidak terlihat, kita sering tidak menyadari bahwa di sanalah kecepatan industrialisasi sebenarnya ditentukan.
📌Kalau Begitu, Apa Sebenarnya Pekerjaan KSP?
Pertanyaan itu terus mengikuti saya.
Kalau KSP bukan regulator ...
bukan operator …
bukan investor ...
lalu apa sebenarnya yang sedang dikerjakannya?
Saya kemudian kembali membaca satu kalimat Dudung.
"Kalau saya menyelesaikan battle saja."
Semula saya menganggap kalimat itu hanya ungkapan yang spontan.
Tetapi semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa kalimat itulah yang menjelaskan seluruh kasus ini.
Battle yang dimaksud ternyata bukan perebutan wilayah.
Bukan pula persaingan antarinstansi.
Battle itu adalah setiap titik kemacetan yang membuat sebuah keputusan tidak pernah sampai menjadi tindakan.
Dalam dunia industri, kita mengenal istilah bottleneck.
Pada sebuah lini produksi, bottleneck bisa berupa satu mesin yang bekerja lebih lambat dibanding mesin-mesin lainnya.
Mesin-mesin sebelum bottleneck terus menghasilkan barang.
Mesin-mesin sesudahnya menunggu tanpa pekerjaan.
Seluruh pabrik akhirnya bekerja mengikuti kecepatan mesin yang paling lambat.
Kasus LTJ membuat saya berpikir:
Apakah negara juga mempunyai bottleneck?
📌 Negara Ternyata Juga Memiliki Bottleneck
Jawabannya, menurut saya, iya.
Bedanya, bottleneck negara bukan berupa mesin baja.
Ia berupa keputusan.
Regulasi sudah ada.
Tetapi implementasinya belum sama.
Kementerian sudah bergerak.
Tetapi interpretasinya berbeda.
Aparat sudah bekerja.
Tetapi kehati-hatiannya menghasilkan keragu-raguan baru.
Pelaku usaha sudah siap.
Tetapi kepastian belum datang.
Tidak ada satu pun keputusan yang keliru secara mutlak.
Namun ketika semuanya saling menunggu, hasil akhirnya tetap sama.
Sistem berhenti.
Di titik inilah saya akhirnya memahami mengapa KSP tidak mengeluarkan regulasi baru.
Yang dilakukan justru mempertemukan seluruh pihak agar bottleneck tersebut hilang.
Bukan mengganti mesin.
Melainkan membuat mesin yang sudah ada kembali mengalir.
📌Industrialisasi Bukan Sekadar Soal Nilai Tambah
▫️Selama beberapa tahun terakhir kita sangat sering mendengar istilah hilirisasi.
Diskusi publik kemudian dipenuhi oleh kata-kata seperti:
smelter,
pemurian,
baterai,
kendaraan listrik,
magnet permanen,
atau critical minerals.
Semuanya benar.
Tetapi saya mulai merasa kita terlalu sering berbicara mengenai apa yang ingin dibangun.
Kita jauh lebih jarang bertanya:
Apa yang membuat pembangunan itu akhirnya benar-benar terjadi?
Kasus LTJ memberi saya jawaban yang tidak pernah saya duga sebelumnya.
Ternyata membangun industri bukan hanya membangun rantai nilai.
Membangun industri juga berarti memastikan rantai keputusan bergerak tanpa hambatan.
Kalau rantai nilai menghasilkan barang ...
rantai keputusan menghasilkan kepastian.
Dan industri membutuhkan keduanya secara bersamaan.
📌Saya Akhirnya Mengerti Mengapa Kasus Ini Penting
Sebelum membaca kasus LTJ, saya mengira ini hanya persoalan teknis mengenai ekspor mineral.
Sekarang saya melihatnya secara berbeda.
Kasus ini adalah jendela kecil untuk melihat bagaimana negara bekerja ketika menghadapi proyek-proyek industrialisasi yang semakin kompleks.
Semakin tinggi teknologi yang ingin dibangun...
semakin panjang pula rantai keputusan yang harus bergerak.
Semakin banyak institusi yang terlibat ...
semakin besar pula risiko munculnya bottleneck.
Artinya, tantangan industrialisasi abad ke-21 mungkin tidak lagi sama seperti lima puluh tahun yang lalu.
Bukan hanya soal membangun pabrik.
Bukan hanya soal mencari investasi.
Tetapi juga soal membangun kemampuan negara menggerakkan dirinya sendiri.
▫️
✍️ Knowledge Gift
▫️Setelah menyelesaikan seluruh perjalanan membaca kasus ini, saya akhirnya membawa pulang satu cara pandang baru.
Selama ini saya selalu mengira industrialisasi hanya mempunyai satu mesin.
Mesin yang menghasilkan barang.
Ternyata saya keliru.
Industrialisasi selalu berjalan dengan dua mesin.
Mesin pertama mengubah sumber daya menjadi produk.
Mesin kedua mengubah keputusan menjadi tindakan.
Mesin pertama menghasilkan nilai tambah.
Mesin kedua menjaga agar nilai tambah itu benar-benar dapat tercipta.
Apabila mesin pertama rusak ...
pabrik berhenti.
Tetapi apabila mesin kedua rusak …
bukan satu pabrik yang berhenti. Seluruh proses industrialisasi dapat kehilangan kecepatannya.
Dan justru mesin kedua inilah yang paling jarang kita bicarakan.
▫️
📌 Penutup
Ketika pertama kali membaca wawancara Dudung Abdurachman, saya hanya mempunyai satu pertanyaan sederhana.
Mengapa Presiden menugaskan KSP mengurus Rare Earth?
Saya tidak menyangka bahwa jawaban atas pertanyaan itu akan membawa saya ke tempat yang sama sekali berbeda.
Saya tidak lagi melihat Logam Tanah Jarang hanya sebagai komoditas strategis.
Saya melihatnya sebagai sebuah cermin.
Melalui cermin kecil itulah saya mulai melihat sesuatu yang selama ini hampir tidak pernah tampak.
Bahwa keberhasilan industrialisasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas sumber daya alam.
Tidakhanya ditentukan oleh teknologi.
Tidak hanya ditentukan oleh investasi.
Tetapi juga oleh kemampuan negara menjaga agar mesin keputusannya bergerak secepat kebutuhan industrinya.
Rare Earth hanyalah tempat saya pertama kali melihat mesin itu bekerja.
Saya yakin ...
bukan tempat yang terakhir.
Penilaian Pembaca
Seberapa bermanfaat tulisan ini bagi Anda?
Tanggapan Pembaca (0)
Masuk dulu untuk ikut menanggapi tulisan ini.
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama.