Mewah Tanpa Harus Megah: Kesederhanaan Sebagai Benteng Kedamaian dan Integritas
Amarullah M. Zawawi
Tigis Artikel · 7 Agustus 2026
Mewah Tanpa Harus Megah: Kesederhanaan Sebagai Benteng Kedamaian dan
Integritas
Oleh:
Amar MZ -Penyuluh Antikorupsi
Kita tiba di nilai
kelima dari rangkaian nilai integritas Jumat Bersepeda KK, yakni nilai yang
mungkin terdengar paling mudah diucapkan namun sering kali paling menantang
untuk dipraktikkan di era modern: Sederhana. Di tengah gempuran media sosial
yang berlomba-lomba memamerkan harta, pencapaian materi, dan gaya hidup serba
gemerlap, kata "sederhana" sering kali mengalami distorsi makna.
Sederhana tidak berarti miskin, pelit, atau hidup menderita. Sederhana adalah
sebuah sikap mental yang merdeka. Ia adalah kemampuan untuk merasa
"cukup" dan tidak membiarkan diri kita diperbudak oleh gengsi.
Mari kita memutar
waktu sejenak dan belajar dari salah satu Bapak Bangsa kita, Mohammad Hatta.
Bung Hatta adalah seorang Wakil Presiden, sosok nomor dua paling berkuasa di
Republik ini pada masanya. Namun, tahukah Anda kisah sepatu Bally impiannya?
Hingga akhir hayatnya, Bung Hatta tidak pernah mampu membeli sepatu kulit merek
Bally yang amat ia idam-idamkan. Ia hanya menggunting iklan sepatu tersebut
dari sebuah koran dan menyimpannya di dalam buku hariannya. Bayangkan, seorang
pemimpin negara yang bisa saja dengan mudah menggunakan fasilitasnya atau
menerima hadiah dari pengusaha, memilih untuk menahan diri. Bung Hatta
mengajarkan kita bahwa wibawa tidak ditentukan oleh merek sepatu yang diinjak,
melainkan oleh prinsip yang dijunjung tinggi di atas kepala.
Keteladanan lain
datang dari Jenderal Hoegeng Iman Santoso, sosok Kepala Kepolisian Republik
Indonesia yang namanya abadi sebagai simbol kejujuran tak tertembus. Jenderal
Hoegeng menolak fasilitas rumah dinas megah dan barang-barang mewah yang ia
anggap bukan haknya. Bahkan, ketika ia dilantik menjadi Kapolri, tindakan
pertama yang ia lakukan adalah meminta sang istri untuk menutup toko bunga
miliknya. Alasannya amat jernih: ia tidak ingin ada orang yang membeli bunga di
toko istrinya hanya dengan niat mencari muka atau menyuap dirinya secara halus.
Jenderal Hoegeng membuktikan bahwa kesederhanaan adalah perisai paling ampuh
untuk menepis segala bentuk benturan kepentingan.
Di era yang lebih
dekat dengan kita, ada sosok mendiang Artidjo Alkostar, mantan Hakim Agung yang
palu sidangnya sangat ditakuti oleh para koruptor kakap. Di balik ketegasannya
memberikan vonis berat kepada pencuri uang rakyat, Artidjo adalah sosok yang
kesehariannya amat bersahaja. Ia tidak gila hormat, tidak tergiur dengan rumah
mewah, dan lebih memilih mengendarai sepeda motor butut atau menumpang bajaj
untuk bepergian. Kesederhanaan Artidjo membuatnya bebas dari rasa takut. Karena
ia tidak memiliki keinginan duniawi yang berlebihan, tidak ada satu pun
koruptor yang mampu membeli integritasnya dengan uang sebanyak apa pun.
Belajar dari
tokoh-tokoh besar tersebut, kita menyadari bahwa gaya hidup sederhana adalah
benteng terkuat melawan hasrat korupsi. Teori kejahatan finansial menyebutkan
bahwa salah satu pemicu utama korupsi adalah tekanan keuangan. Ironisnya di
zaman sekarang, tekanan keuangan yang menjerat seseorang sering kali bukan
berasal dari kebutuhan dasar untuk makan atau biaya pendidikan, melainkan dari
tuntutan gaya hidup demi sebuah validasi sosial. Ketika kita mulai
membandingkan hidup kita dengan etalase pencapaian orang lain di dunia maya, di
situlah rasa "kurang" mulai menggerogoti nalar sehat kita.
Menjadi sederhana
berarti kita membeli apa yang kita butuhkan, bukan apa yang sekadar kita
inginkan untuk mendapat pujian dari orang yang bahkan tidak kita kenal.
Sederhana adalah tentang keaslian diri dan keberanian untuk memutus siklus
konsumerisme. Seorang aparatur atau pekerja yang hidup sederhana akan berangkat
kerja dengan langkah yang ringan. Ia tidak akan pusing memikirkan cicilan
barang mewah yang menumpuk atau tagihan yang di luar batas kemampuannya. Karena
pikirannya tenang dan tidak dikejar hutang gaya hidup, ia bisa mencurahkan
seluruh energi dan fokusnya untuk berkarya dan memberikan pelayanan terbaik.
Pada akhirnya,
kesederhanaan bukanlah sebuah pengekangan, melainkan sebuah kemerdekaan yang
sejati. Ketika kita berani untuk hidup sederhana, kita sedang membebaskan diri
kita dari rantai keserakahan yang tak berujung. Kita menjadi tuan atas harta
kita, bukan menjadi budaknya. Mari kita terus dan tetap terus rayakan
kesederhanaan dalam keseharian kita. Sebab, kemewahan tertinggi dari seorang
manusia bukanlah pada seberapa banyak kekayaan yang bisa dipamerkannya,
melainkan pada seberapa nyenyak ia bisa tidur di malam hari, karena ia tahu
persis tidak ada sepeser pun hak orang lain yang ia ambil secara paksa.
Pangkalpinang
7 Agustus 2026
Penilaian Pembaca
Seberapa bermanfaat tulisan ini bagi Anda?
Tanggapan Pembaca (1)
Masuk dulu untuk ikut menanggapi tulisan ini.
Sjahdinu Miraza 7 Agustus 2026
Rajin amar