Teori Evolusi Manusia yang sudah lama dipercaya
Ramdhani
Tigis Artikel · 8 Agustus 2026
Teori evolusi manusia merujuk pada proses yang bertahap dan lurus dari otak yang membesar hingga wajah yang makin kecil. Namun temuan terbaru membantah anggapan lama tersebut.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipimpin Mark Hubbe dari University of Tennessee-Knoxville dan Katerina Harvati dari Senckenberg Centre for Human Evolution and Palaeoenvironment (SHEP) di University of Tübingen yang terbit di jurnal Nature Communications.
Studi berjudul "Evolutionary drivers of encephalization and facial reduction in the genus Homo" melakukan analisa pada 87 fosil tengkorak dari berbagai spesies dalam genus Homo. Sampelnya termasuk Homo habilis, Homo erectus, Homo heidelbergensis, Neanderthal, hingga manusia modern Homo sapiens.
Para peneliti melakukan pengujian pada enam model evolusi yang mencakup seleksi alam dan mendorong pada perubahan ke arah tertentu, perubahan acak atau netral, dan seleksi stabilisasi yang mempertahankan ciri dalam rentang tertentu.
Terakhir juga melihat teori punctuated equilibrum, menggambarkan periode panjang dengan sedikit perubahan sebelum adanya perubahan evolusioner yang lebih cepat.
Dari hasil analisa ditemukan manusia purba tidak mengalami perubahan berarti pada proses evolusi. Hal tersebut baru terjadi saat hambatan biologis, lingkungan dan budaya mulai berkurang.
"Meskipun analisis kami mengkonfirmasi tren evolusi yang sudah dikenal mengenai pertumbuhan tengkorak dan pengurangan wajah, analisis tersebut menunjukkan bahwa perbedaan dalam genus kita dapat dijelaskan jauh lebih efektif oleh proses evolusi netral dan periode panjang stasis evolusi," jelas Hubbe, dikutip dari SciTechDaily, Rabu (5/8/2026)
.
@~ali akbar
Penilaian Pembaca
Seberapa bermanfaat tulisan ini bagi Anda?
Tanggapan Pembaca (0)
Masuk dulu untuk ikut menanggapi tulisan ini.
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama.