Menjadi Pembuka Jalan Bagi Orang Lain Untuk Kebaikan
Tim Redaksi
TigisReligius · 25 Juni 2026
MENJADI PEMBUKA JALAN BAGI ORANG LAIN UNTUK KEBAIKAN
Oleh : David Muhammad
Menjadi pembuka jalan kebaikan bagi orang lain merupakan salah satu pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. Kita bisa menjadi wasilah, perantara, ataupun pembuka jalan bagi orang lain untuk melakukan kebaikan. Tentu saja, dengan niat yang baik, jujur serta amanah. Dan akan lebih baik lagi bila kita sendiri juga melaksanakannya semaksimal mungkin.
Pembuka kebaikan yaitu memberi inspirasi, nasihat, wawasan, ilmu, dan teladan bagi orang lain dalam melakukan amal kebaikan. Hal ini termasuk mengajak orang lain terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, mengajak dan mengingatkan orang lain untuk beramal sholeh, dan lain sebagainya. Termasuk pembuka kebaikan adalah dakwah dalam segala bentuknya.
Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ
“Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi pembuka kebaikan dan penutup pintu keburukan. Dan sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Berbahagialah orang-orang yang Allah jadikan sebagai pembuka kebaikan melalui tangannya. Dan celakalah orang-orang yang Allah jadikan sebagai pembuka keburukan melalui tangannya.” (HR. Ibnu Majah no. 237, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 297, Ath-Thayalisi dalam Al-Musnad no. 2082 dan Al-Baihaqi Syu’abul Iman no. 298. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1332)
Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).
Kebaikan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah kebaikan agama maupun kebaikan dunia. Termasuk dalam memberikan kebaikan di sini adalah dengan memberikan wejangan, nasehat, menulis buku dalam ilmu yang bermanfaat.
Hadits di atas semakna dengan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)
Tetapi yang harus diingat adalah jangan pernah memaksakan kehendak kepada orang lain, karena sebaik apapun kebaikan itu, hidayah bagi orang yang diajak untuk melaksanakannya adalah hak prerogatif Allah. Hanya Allah saja yang berkehendak untuk menurunkan taufiq dan hidayahNya kepada siapa saja yang dikehendakiNya.
Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan mengenai tafsir ayat ini, “Allah mengetahui siapa saja dari hambaNya yang layak mendapatkan hidayah, dan siapa saja yang tidak pantas mendapatkannya”.
Barangsiapa yang Allah beri hidayah, tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang telah Allah sesatkan, tidak ada seorang pun yang bisa memberi hidayah kepadanya.
Allah berfirman yang artinya “Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)
Dan Allah berfirman yang artinya “Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemberi petunjuk.” (QS. Az-zumar:23).
Nah, menjadi pembuka jalan kebaikan bagi orang lain pun adalah atas kehendak dan taufiq dari Allah ta'ala. Maka dari itu sudah sepantasnya kita harus selalu memohon hidayah dan kemudahan kepadaNya. Agar diri kita istiqomah di jalanNya dan senantiasa dalam kesabaran dan selalu bersyukur kepadaNya.
Wallahua'lam.
Semoga Bermanfaat
DM-Jun2026
Penilaian Pembaca
Seberapa bermanfaat tulisan ini bagi Anda?
Tanggapan Pembaca (2)
Masuk dulu untuk ikut menanggapi tulisan ini.
Ade Sukiran 11 Juni 2026
stronger To Get Her
Agie Gumilang 30 Mei 2026
Stronger together